MUSEUM BATAK HUTA BOLON SIMANINDO

Kunjungan Museum Huta Bolon merupakan destinasi terakhir yang kita hampiri sebelum meninggalkan Pulau Samosir. Yang menarik dari museum ini adalah mereka memiliki pertunjukan tarian batak tradisional pada setiap harinya.

Museum Huta Bolon Simanindo, sebuah museum terbesar yang ada di dalam Pulau Samosir.
Huta adalah sebuah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman pohon bambu yang berguna untuk menghalangi musuk masuk ke dalam kampung. Huta hanya memiliki satu pintu gerbang.

Huta Bolon Simanindo

Rumah di dalam Huta berbaris disamping kanan dan kiri dari rumah raja. Rumah Raja dinamakan Rumah BOLON. Dihadapan rumah raja didirikan lumbung padi yang diberi nama Sopo. Halaman tengah diantara rumah Bolon dan Sopo, dulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul godang). Ditengah halaman didirikan sebuah  Tonggak yang dihiasi dengan daun daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut dinamakan Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Mangalahat Horbo

Disinilah kita akan menyaksikan pertunjukkan Pesta Adat Mangalahat Horbo lengkap dengan semua urutan-urutannya dan dipenghujung acara kita juga diberikan kesempatan untuk menari bersama serta menyaksikan Tarian Sigale-Gale, yang menjadi ikon bagi warna Pulau Samosir ini.

Pesta Adat Mangalahat Horbo

  1. Gondang Lae-lae : Doa kepada dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Kepercayaan Orang Batak jaman dulu setiap tingkah laku dari kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau yang buruk terhadap yang berpesta.
  2. Gondang Mula-mula : Doa kepada mula jadi, Dewa pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Ia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
  3. Gondang Mula Jadi : Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Dewata atau Tuhan.
  4. Gondang Shata Mangaliat : Orang berpesta menari mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, dimana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
  5. Gondang Marsiolop-olopan : Orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.
  6. Gondang Siboru : Tari untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamar.
  7. Gondang Sidoli : Tari untuk pemudi sambil menari agar pemuda mendekati putri yang dicintainya dan didambakan sebagai istri dan dia akan memberikan uang sebagai tanda cinta kepada putri.
  8. Gondang Pangurason : Roh nenek moyang berpesta datang dan menyusup pada tubuh salah seorang penari dan memberi berkat kepada mereka.
  9. Tari Bersama : Semua tamu diundang untuk menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta. (Disinilah para turis dan warga yang menyaksikan pertunjukkan ini diajak ikut menari bersama).
  10. Tortor Tunggal Panaluan : Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu, seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Tortor Tunggal Panaluan

 

SIGALE GALE

Gondang Sigale-gale

Gondang (tari) Sigale-gale ini adalah tari boneka yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan sangat mirip dengan manusia. Sigale-gale ini bermula dari Raja Rahat yang jaman dahulu kala hanya memiliki anak tunggal yang bernama Raja Manggale. Raja Manggale tumbuh besar dan menjadi seorang anak raja yang disegani dan dihormati rakyat dalam kepiawaiannya berperang. Pada suatu hari Raja Manggale pergi berperang dan gugur dalam peperangan tersebut. Raja Rahat yang kemudian mengetahui hal itu pun menjadi sedih dan jatuh sakit.

Sakit sang raja berkelanjutan dan tidak bisa sembuh walaupun sudah memanggil setiap ahli dan Datu untuk memeriksa Raja. Akhirnya seorang penasihat menyarankan untuk membuat patung yang menyerupai putra sang raja untuk mengurangi kesedihan sang raja. Maka dibuatlah patung dan supaya “hidup”, para tetua memanggil roh Raja Manggale dan membuat patung tersebut bergerak. Rupanya cara itu berhasil menyembuhkan penyakit dan kesedihan Raja Rahat. Dimana kala Sang Raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta tarian Sigale-gale. Semenjak itulah, tarian Sigale-gale muncul dan terus dijadikan budaya hingga saat ini.

Namun saat ini tentu saja tidak menggunakan panggilan roh seperti jaman dulu. Tetapi dibuat dengan  tali yang bisa dikendalikan oleh manusia dibelakangnya sehingga Patung tersebut tetap bisa menari dengan lincah. Sigale-gale ini diambil dari nama Raja Manggale dan juga memiliki arti si lemah lembut.

Tarian Sigale-gale ini bisa kamu jumpai dibeberapa tempat di Pulau Samosir, selain di Museum Huta Bolon ini, juga bisa dijumpai di Desa Tomok, yang juga menjadi pusat kunjungan para wisatawan.

Berfoto dengan penari adat setempat

Makam Raja-raja Batak

Museum Simanindo

Ulos (Kain traditional Batak dan tulisan Batak)

Untuk pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo ini hanya ada dua sesi setiap harinya dan tiket masuknya adalah IDR 50.000 per orang.

 

MUSEUM HUTA BOLON SIMANINDO 

Address : Jl. Pelabuhan Simanindo, Simanindo Sangkal, Simanindo, Samosir, Sumut 22395
Phone : (+62)813 9672 1133
Open : 08.00AM – 17.00PM

Share if you like :

2 thoughts on “MUSEUM BATAK HUTA BOLON SIMANINDO

Leave a Reply