OVERLAND SUMBA TRIP – NUSA TENGGARA TIMUR

Akhirnya setelah penantian yang panjang, hari itu tiba juga. Iya hari keberangkatanku ke tanah Sumba! Udah booking trip ini dari berbulan-bulan yang lalu, biar ga ada alasan untuk batal. Pas udah deket deket sampai seminggu sebelum trip, tiba-tiba daerah Lombok, Palu, dan Sumba terserang gempa yang cukup memenuhi media massa. Hampir sedih kalo sampe harus batal, tapi untung semesta masih mendukung. Sumba aman dan damai sampai hari ini!

Bukit Wairinding

Apa yang kalian harapkan ketika mendengar atau berencana mengunjungi Sumba? Kalo aku, hanya alam, alam dan alam. Bukit yang indah, rerumputan, bunga sakura (hayo tau gak di Sumba ada bunga sakura?), dan pastinya kain sumba!

Untuk trip kali ini, aku dan teman teman menggunakan jasa private tour dari Look Indonesia Adventure yang kemudian menemukanku dengan Jo dari @ranselusang sebagai tour guide dan Herlan @herlanabbas sebagai driver kita. Kita total berlima dengan pilihan trip 4 hari 3 malam.
Jadi kemana aja kita? Yuk kita mulai~

DAY 1

Dimulai dari penerbangan Bali – Sumba Barat (perjalanan kita dimulai dari Sumba Barat dan berakhir di Sumba Timur, jadi gak kembali ke kota yang sama) dengan Wings Air. Mendarat di Bandara Tambolaka pada pukul 11.45 WITA.

Sampai bandara kita sudah langsung disambut oleh Jo. Ohya, selama di Sumba sinyal itu susah. Bener kayak yang udah pernah kita denger atau mungkin yang udah pernah nonton film “Susah Sinyal”. Untuk sinyal paling kuat disini menggunakan telkomsel, itupun hanya di jalan-jalan besar dan di hotel. Kalo di lokasi agak dalam biasa sinyal hilang timbul sesuka hati.

Hal pertama yang kita lakukan adalah check in ke hotel, taro koper dan siap-siap berkunjung ke Rumah Adat Ratenggaro (suku terbesar di Sumba Barat).

Rumah adat Ratenggaro

Perkumpulan para anak babi >.<

Gak kaget kalo ketemu babi disini, tapi agak kaget karena ternyata babinya banyak banget dimana mana. Bahkan dipinggir jalan pun babi babi jalan aja kayak biasa, udah bagaikan anjing dan kucing pada umumnya. Disini yang banyak ditemuin tuh: babi, anjing, kuda, kerbau, malahan kucing yang jarang banget. Kita cuma ketemu sekali itupun dimalam terakhir doang.

Kain Sumba Timur

Setiap rumah di Sumba selalu ada kain yang mereka buat sendiri. Ini juga yang jadi kebanggaan tiap rumah masing-masing. Ohya, untuk kain sumba barat dan sumba timur motifnya pun berbeda loh! Menurutku observasiku sih, kain sumba barat motifnya lebih cenderung geometrik dan patternnya berulang gitu. Nanti dibawah kita liat contoh kain sumba timur dan bandingkan sendiri yaa.

Selanjutnya, kita berpindah ke Pantai Bawana/Mbawana kemudian menikmati sunset di Tanjung Mareha. Tanjung Mareha ini posisinya ada diatas Pantai Bawana. Jadi kita bisa melihat keseluruhan pantai dari sini.

Sedangkan Pantai Bawana, untuk mencapainya juga bukan hal yang mudah. Ga semerta merta turun mobil langsung depan pantai. Tapi butuh perjuangan trekking turun ke bawah dulu, cukup terjal dan melelahkan, dan biasanya dari atas sudah ada penyewaan guide lokal yang siap membantu kita turun dan naik kembali. Nah karena posisinya yang tidak mudah dijangkau ini juga, biasanya disarankan untuk naik sebelum matahari terbenam/ gelap karena akan lebih sulit dan berbahaya untuk naik walaupun dengan bantuan mereka.

Perjuangan menuju Pantai Bawana

Guide lokal yang membantu kita

Kalo liat mereka sih naik turunnya gampang banget, ga perlu pegangan. Lah kita, jalan satu langkah aja udah sibuk nyari pegangan takut tergelincir. Pas naik, lebih lelah lagi sampe hampir keliyengan. Ini nih, akibat kelamaan jadi anak kota yang kurang berolahraga.

Secercah harapan sudah didepan mata.

Tapi semua perjuangan rasanya terbayarkan waktu udah sampai bibir pantai. Indah Sekaliii! Sayang kita sampenya udah agak kesorean jadi gabisa lama-lama disini.

Mbawanna Beach

Pantai Mbawanna

Ikonnya pantai mbawanna. Bukan, bukan aku ya. Tapi tebing bolong yang ada dibelakang aku. Menjelang sore, banyak orang berkumpul dideket sini untuk mengambil foto. Tapi dengan kesabaran dan kepiawaian Jo, aku bisa dapet foto sendiri begini.

First Sunset in Sumba

Full Team!

Tanjung Mareha

Setelah menikmati sunset dan kelelahan akibat trekking mendadak, saatnya pulang dan mengisi perut. Kemudian balik ke hotel dan istirahat.

 

DAY 2

Bangun jam 6 pagi, siap siap dan sarapan karena jam 7 kita sudah harus berangkat. Perjalanan hari ini, bermain air di Danau Weekuri, ke rumah adat Praijing, dan Menikmati sunset di Bukit Wairinding.

Danau Weekuri

Danau Weekuri

Danau Weekuri ini danau air asin yang terbentuk dari terowongan batu karang besar yang mengalirkan air laut samudera hindia ke pantai ini dan membentuk danau. Setiap pagi danau itu pun selalu ikut surut mengikuti pergerakan air laut. Warnanya yang biru dan jernih rasanya membuat hati tenang dan damai.

The Girls

Batu karang  besar yang memisahkan laut dan danau weekuri

Air mulai pasang

Waktu kita tiba (sekitar jam 9 pagi), danaunya masih terlihat setengah kering. Namun tidak lama setelahnya, air laut yang dihempas ombak itu pelan pelan mengalirkan air ke dalam danau melalui celah celah kecil di batu karang. Dalam waktu kurang dari 2 jam disana, air danau sudah sepinggang. Sayang kita menahan diri untuk tidak mandi karena masih terlalu pagi dan akan berkunjung ke tempat selanjutnya lagi.

Neduh dulu~

Taring Babi

Hasil kerajinan tangan warga setempat

Setelah beranjak dari Danau Weekuri, jam makan siang pun tiba. Makan siang dulu di warung terdekat yang menjadi tempat makan warga setempat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Adat Praijing.

Nah hari kedua ini juga kita mulai menelurusi jalan dari Sumba Barat ke Sumba Timur. Kita stay di hotel Sumba Barat hanya 1 malam, dan setelah itu pindah ke Beach Hotel di Sumba Timur.

Rumah Adat Praijing

Rumah adat Praijing ini sebenarnya menurutku kelihatan lebih eksotik dibanding rumah adat ratenggaro yang kita kunjungi hari sebelumnya. Penduduk dan anak-anaknya pun jauh lebih ramah dan bisa berkomunikasi dengan turis luar. Walaupun mereka tidak sepenuhnya mengerti Bahasa Indonesia. Iya, mereka disini kebanyakan masih menggunakan bahasa daerah. Tetapi anak-anak yang sudah sekolah biasa telah diajarkan bahasa Indonesia dan berkomunikasi dirumah/ teman dengan 2 bahasa tersebut.

Tahukah kamu, bahwa rumah adat ini memiliki arti disetiap bentuk dan tiang yang dibangun?
Salah satunya adalah bebatuan yang bisa kamu temukan didepan rumah warga. Batu-batu tersebut merukan tempat makam keluarga. Selain itu, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca disini “Mengintip Rumah Adat Sumba”.

Bermain dengan Jessi dan Lio.

Bertemu dengan anak-anak ini di salah satu rumah, terus aku samperin. Awalnya Lio agak takut dan ragu pas aku ajak ngomong, tapi ga sampe 5 menit kemudian akhirnya dia samperin aku terus malah minta dipangku, super gemeeess. Nah yang sebelahnya itu kakaknya, Jessi. Kalo Jessi mengerti bahasa Indonesia, sedangkan Lio belum. Jadi aku ajak ngomong juga bingung, harus dibantu terjemahin sama Jessi dan mamanya.

Menenun Kain Sumba

Setelah main sama anak-anak, kita berpindah tempat lagi. Kali ini ke Bukit Wairinding. Perjalanannya lumayan panjang, sekitar 2-3 jam. Bukit Wairinding tempat yang sangat bagus sekali untuk menikmati sunset.

Bukit Wairinding

Awal kita sampe mobil cuma bisa sampai dibawah kaki bukit kemudian kita harus naik sendiri, tapi sedikit banget sih kurang lebih 5 menit jalan. Sampai diatas langsung disambut sama hamparan bukit barisan dan sangat luas ini, indahnyaaa bener bener keterlaluan T_T

Kalo orang-orang foto disini, udah wajib hukumnya sambil menggunakan kain sumba. Sedangkan aku belum punya 🙁 tapi pas kita nyampe, cuma ada 1 orang lain yang juga sedang berkunjung dan akhirnya aku dipinjemin kain sumba baratnya buat foto hehe (terima kasih mas Angga).

Sambil menunggu sunset, kita punya banyak waktu untuk foto-foto, bermain, dan jalan jalan mengelilingi bukit. Disini juga banyak anak-anak yang membawa kuda yang bisa kita sewa. Untuk kuda-kuda disini, adalah peliharaan mereka sendiri dan kudanya tidak dipasangi sadel atau sepatu kuda gitu jadi ya cuma kuda ditaliin aja jadinya agak sedikit perjuangan naik kudanya, karena ga ada bantuan sama sekali. Tapi pada akhirnya aku berhasil juga kok hihi!

Berkuda di Bukit Wairinding

Golden Hour

Kain yang ini, berbeda dengan yang diatas. Tapi sama-sama kain pinjeman. Yang ini kain sumba timur dibawain sama Jo.

Teman-teman dari Bukit Wairinding

Erik, Aren dan Petrus

Sebagian anak-anak dibukit yang menyewakan kudanya untuk kita. Mereka juga menemani kita jalan naik turun bukit dan membantu menunjukkan jalan. Mereka ahlinya deh soal Bukit yang satu ini.

Matahari terbenam dengan indahnya

Menjelang matahari terbenam, kita duduk-duduk aja sambil menunggu. Terus tiba tiba anjing ini dateng dan duduk didepan kita, ikut menikmati matahari terbenam bersama.

Magical moment   

 

DAY 3

Hari ketiga! Memulai hari dengan trekking lagi menuju air terjun Waimarang, mengunjungi bukit Tanarara dan mampir ke pantai Walakiri untuk bertemu dengan “Dancing Tree” sambil menikmati sunset lagi.

Trekking menuju Waimarang

Pagi-pagi udah dipaksa olahraga dulu. Trekking sekitar 30 menit untuk menuju air terjun Waimarang. Perjalanannya gampang-gampang-susah. Awalnya sih cuma jalanan kecil dihutan, eh lama lama mulai naik turun. Bagian ini yang agak sulit, karena tangganya juga masih semua dari alam, ada yang batu, tanah, bahkan masih berupa akar pohon. Tapi sudah dibuat jalan kecil dengan pegangan kayu disepanjang jalan menuju air terjun.

Setelah 30 menit berjalan, kita harus menyebrang sedikit dan naik ke pinggir batu untuk mencapai air terjun yang ada dibaliknya. Tapi semuanya langsung terbayarkan, waktu suara air mulai terdengar dan melihat air biru jernih yang sudah menunggu.

Lagi lagi kali ini Jo dan Herlan inisiatifnya bagus sekali, hampir sepanjang trip kita selalu sampai duluan dibanding turis lain. Jadi kita benar-benar menikmati alam tanpa gangguan orang lain, jadi foto pun ga mengganggu atau diganggu orang lain. Setiap berkunjung ke suatu tempat, saatnya kita beranjak, disaat itulah turis lain baru tiba dan memulai perjalanan mereka.

Air Terjun Waimarang

Dari awalnya main air aja, akhirnya ga tahan dan nyemplung juga! Setelah gagal menikmati air di danau Weekuri, disini aku memutuskan untuk menikmati air Sumba.

Kali ini beranjak ke bukit savana lagi, Bukit Hiliwuku dan Tanarara. Kalo kata temenku, kayak Grand Canyon versi KW (belum kesampaian kesana, jadi percaya ajah.) Tapi artinya, Indonesia gak kalah bagus dari negeri seberang ya kaaaan~

Hampir seluruh perjalanan kita disini, ditemani dengan matahari yang cerah dan jalanan aspal lurus yang mulus. Iya katanya memang jalanan disini belum lama jadi, kita kebagian jalanan yang udah bagus :’) padahal sebelum berangkat, pernah denger cerita kalo jalanannya agak rusak dan diingetin hati-hati mabok darat. Eh ternyata udah mulus semua sekarang.

Bukit Hiliwuku

Bukit Tanarara

Teman-teman yang baru pulang sekolah

Dibukit ini ketemu lagi dengan teman teman yang baru pulang sekolah. Jadi kita sebelum sampai ke bukit ini ngelewatin satu sekolah yang cukup besar. Ternyata sekolah mereka, dan itu berkilo-kilo meter jauhnya! Dan mereka semua setiap hari jalan kaki pulang pergi buat pergi ke sekolah. Katanya sekolah mereka dimulai jam 8 pagi, tapi mereka harus jalan dari rumah itu sekitar jam 4/5 subuh. Nah kita ngobrol-ngobrol sama Alfred dan Agnes disini, karena kita berhenti dibukit menuju ke rumah mereka.

Waktu liat Alfred jalan, kita bingung. Dia punya sepatu, tapi cuma ditenteng dan jalannya malah nyeker. Pas ditanya, ternyata karena dia sayang sepatunya rusak. Jadi setiap hari dia tenteng sepatunya sampai deket sekolah baru dipakai. Disini masih sangat susah mencari dan mendapatkan perlengkapan sekolah. Bisa berangkat sekolah aja mereka udah seneng banget. Aku yang denger ini rasanya sedih sendiri. Sebenernya sih udah denger banyak cerita kayak begini, tapi ternyata pas ketemu mereka yang ngalamin langsung, jadi lebih sedih lagi.

Herlan disini juga udah sering banget bantu anak-anak disini dan sering juga dia dititipin oleh temen-temen turis yang mau membantu dan memberikan perlengkapan sekolah ataupun hal yang lainnya untuk mereka. Ngeliat mereka begitu, membuat aku sadar betapa boros dan enaknya hidup aku di kota. Itupun masih ga jauh dari mengeluh. Kalo udah ketemu mereka, rasanya kita udah ga pantes ngeluh deh. Mereka yang begitu aja semangatnya sangat besar, malah yang kesehariannya dilengkapi dengan kemewahan lebih banyak ngeluhnya 🙁

Alfred dan Agnes

Alfred dan Agnes ini kakak beradik. Rumah mereka ada di 2 bukit dibalik jalanan ini. Ini saat kita berpisah, saatnya mereka pulang karena udah sore. Nanti dicari mama kalau tidak pulang pulang. Kita lihat mereka jalan sampai dibukit pertama dan udah ga keliatan kecil banget saking jauhnya. Dan dari situpun, kata Jo perjalanannya masih lumayan jauh, harus muterin balik bukit lagi. Semangat terus ya Alfred dan Agnes. Sampai jumpa lagi!

Sehabis dibuat merenung dan bersedih yang didukung oleh cerita Jo dan Herlan, saatnya kembali menikmati keindahan sumba! Sudah menjelang sore, saatnya siap-siap untuk sunset di Pantai Walakiri.

Pantai Walakiri ini terkenal dengan “Pohon Menari/ Dancing Tree”. Tumbuhan mangrove yang ada dipantai walakiri dan bertumbuh tanpa aturan dengan liukan yang berbeda-beda bagaikan sedang menari.

Walakiri Beach

Sebenarnya untuk area pohon mangrove ini tidak terlalu besar, jadi spotnya hanya disitu aja. Tapi hamparan pantainya yang luas dengan air yang surut membuat kita bisa berjalan sangat jauhhh dan disepanjang pantai banyak tumbuhan dan binatang laut yang bisa kamu temukan. Disini aku menemukan berbagai macam bintang laut, kepiting, kelomang/ keong, sampai binatang atau rumput laut yang tidak familiar untukku.

Dari sekian banyak bintang laut dengan berbagai macam warna dan ukuran, semuanya aku cuma berani liat aja. Yang ini akhirnya kucoba beranikan diri untuk pegang sebentar dan langsung kukembalikan lagi. Semoga aku tidak sempat melukaimu yaa nak.

Bintang Laut

Our Sunset Pose

Beautiful Dancing Tree – Walakiri Beach

 

DAY 4

Hari keempat, penghujung perjalanan pun telah tiba. Saatnya menyiapkan diri untuk kembali ke kota. Tapi sebelumnya, kita akan menikmati Sunrise dulu di Puru Kambera, mengintip bunga sakura sumba, dan berbelanja kain sumba untuk dibawa pulang. Yay to kain!

Sunrise di Puru Kambera

Rumput liar yang tak kalah bagus dengan bunga bunga indah.

Bangun dan berangkat jam 5 pagi, demi mengejar sunrise. Sayangnya hari itu, langit agak sedikit berawan. Tapi yang namanya alam, tidak bisa dipaksa apalagi dibuat. Jadi ya dinikmati aja. Eh ga lama setelahnya, sinar matahari mulai menyinari dengan indahnya dan ternyata tetep bisa dapet foto bagus juga :’)

Berangkat sekolah dulu.

Kemarin ketemu anak pulang sekolah, kali ini berangkat sekolah. Sayang ga sempet mampir lama karena kita juga dikejar waktu penerbangan, dan mereka juga dikejar jam masuk sekolah. Tapi kita sempet bertukar sapa sebentar dan mereka ramah dan senang sekali!

Sakura di Sumba

Udah pernah denger/ tau kalo di Sumba ada SAKURA?? APA??
Iyaaa bunga sakura! Sakuranya sumba alias bunga konjil. Yang berbunga di bulan september -oktober. Ini juga salah satu alasan kenapa aku ke Sumba di bulan Oktober. Selain savananya, juga bunga sakura!

Nah sebenernya pohon konjil ini katanya pohon liar yang tumbuh di Sumba Timur. Jadi biasa kalo ketemu juga ya per pohon gini aja. Bukan kayak di Jepang yang udah ada taman khusus untuk menikmati sakura. Yang ini pun kita random lewat dan ketemu satu pohon ini yang warnanya masih pink banget. Soalnya katanya tahun ini konjilnya berbunga lebih cepat, jadi pas kita dateng itu udah pada memutih atau rontok 🙁 Tapi lagi-lagi lucky us masih ketemu sama bunga pink ini .

Pohon Konjil

Bunga Konjil

Saatnya menutup perjalanan ini, dan berangkat ke bandara. Eh tapi sebelum itu masih ada wisata belanja. Belanja kain Sumba Timur dan berbagai macam gelang, dan rajutan tangan lainnya. Disini kainnya sangat banyak pilihan dengan harga yang sangat variatif. Kain sumba itu terkenal dengan pewarnaan benangnya yang alami dan harus menunggu musim untuk mendapatkan warna masing-masingnya. Jadi prosesnya tidaklah mudah dan harganya juga tidak murah.

Selain melihat kain sumba, kita juga diberi kesempatan untuk mencoba baju adat mereka. Gimana aku keliatannya udah cocok jadi anak sumba belum?

Baju Adat Sumba

Dan kenang-kenangan yang terakhir. Foto bareng Herlan dan Jo! Biar gak lupa mukanya, jadi nanti balik kesana lagi dicarinya lebih gampang hahaha. Terimakasih ya kalian atas semua servis dan informasi, kerjasama dan sudah menemani kita di trip ini. Sampai jumpa dilain waktu yaa~

Herlan – Driver/ Fotografer juga!

Jo – Tour Guide/ Fotografer Kita

Penerbangan pulang kita dari Waingapu – Bali dengan Wings Air, pukul 11.40 WITA. Demikianlah perjalanan 4 hari 3 malam kita di Sumba. Rasanya kurang, karena ternyata masih banyak tempat yang belum kita kunjungi. Tapi yasudahlah, jadi ada alasan untuk kembali lagi. Salam dan sampai jumpa Sumba!

Sampai jumpa lagi Sumba!

 

THE FOODS

Untuk makanan, selama disini sih aku masih fine aja dengan makanannya. Semua bisa dimakan. Cuma mungkin karena biar lebih pasti kita bisa makan, kita selalu dibawa ke tempat makan yang menurutku “aman”. Masakan yang biasa juga bisa kita temukan.

Hari pertama kita makan di restoran hotel sinar tambolaka. kemudian makan malam Se’i (babi panggang asap) ini lokasinya gak jauh dari hotel kita. Iga dan sup brenebonnya enak!

 . 

Hari kedua kita makan semacam nasi sayur, yang bisa kita pilih sendiri lauknya (yang ini lupa difoto gara-gara udah terlalu laper. Malamnya makan masakan indonesia pada umumnya juga. Kayak soto, rawon, bakso, mie goreng, dsb.

  

Hari ketiga makan siangnya nasi kotak karena ga memungkinkan untuk cari makan di resto lagi. kemudian makan malamnya seafood di lesehan “Enjoy Aja”. Ini kuah asam, ikan goreng, cumi goreng dan terong gorengnya mantaaabbbbb!

 

THE HOTEL

Kita stay di 2 hotel berbeda, satu malam di Sumba Barat dan 2 malam di Sumba Timur. Untuk Sumba Barat kita tinggal di Ella Hotel. Hotelnya masih terbilang baru, sekitar bulan April baru mulai dibuka untuk umum. Kamarnya bersih dan masih sangat oke walaupun ukurannya tidak terlalu besar.

Ella Hotel

 .  Dining Room

Deluxe room

Hotel kedua, kita tinggal di Padadita Beach Hotel di Sumba Timur. Yang ini hotelnya cukup besar. Terus dapet view langsung ke pantai. Ruang makan/ sarapannya juga besar, di ada hut-hut di pinggir pantai juga dan yang paling penting kamarnya gede banget! Udah tambah extra bed pun masih super spacious dan bisa lalu lalang dengan bebas.

Padadita Beach Hotel

Lobby

Ruang makan

Beach Hut

Deluxe Room

Room View

The Beach

 

Jadi gimana? Udah semakin tertarik untuk berkunjung ke Sumba? 😉

 

Share if you like :

Leave a Reply