Samosir Island Trip, Sumatera Utara

Lebaran sudah lewat sebulan, tulisan ini baru mulai dibuat. Tapi tetep mau share liburanku (dan keluarga) ke Pulau Samosir, yang berada ditengah-tengah Danau Toba. Aku sendiri pun penasaran, sebenarnya liat Danau Toba itu udah sering banget, tapi selalu dari tempat yang berbeda-beda. Dari Brastagi, lalu beberapa tahun lalu sempet ke Balige, dari Parapat juga udah berkali-kali. Nah kali ini kita nyebrang buat menikmati Danau Toba dari tengah-tengah danau.

Pemandangan Danau Toba

DAY 1

Nah beginilah lokasinya kalo diliat dari Google maps. Aku berangkat dari Parapat untuk menyeberang ke Pulau Samosir, melalui Pelabuhan Ajibata. Nah pelabuhannya ini ukurannya pelabuhan kecil. Cuma ada 2 kapal untuk mengangkut mobil (kapasitas sekitar 30+ mobil per kapal) dan sisanya kapal kecil untuk mengangkut penumpang.

Dikarenakan liburan lebaran penyeberangan ini selalu rame banget banget (karena weekend aja biasanya rame) jadi udah pasti ngantri. Awalnya dibilang begitu sama papaku dan disuruh berangkat subuh tapi anggep remeh dan ga percaya serame itu jadi masih sempet2nya santai dan sarapan pagi dulu, karena kita berangkat masih sehari sebelum lebaran tiba. Ternyata oh ternyata, antrinya separah itu!

Kita sampai dipelabuhan sekitar jam 11.30, antrian disepanjang jalan udah penuh dengan mobil. Tapi untung antriannya rapi dan dinomorin mobilnya satu-satu, ga ada pengecualian dan prioritas disini. Dari sampe nomor antrian kita 271 sedangkan mobil yang udah berhasil nyebrang baru nomor 100an. Akhirnya kita berangkat sekitar jam 5 sore (huff lama juga, resiko liburan dihari lebaran). Tapi gapapa, yang penting semua selamat 🙂

Kapal Penumpang

Foto ini diambil waktu dalam penyebrangan ke Pulau Samosir. Berpapasan dengan kapal penumpang. Perjalanan kita sekitar 40menit di kapal. Sampai disana langsung menuju hotel, karena sudah sore dan capek seharian nunggu, akhirnya kita memutuskan untuk makan malam di hotel dan istirahat.

Carolina Hotel

Kita akan stay di Pulau Samosir selama 3 hari 2 malam dan menginap di Carolina Hotel, Tuk-tuk. Kaget sekaligus senang waktu menginjakkan kaki disini, tempatnya menyenangkan sekali! Luas, pemandangan langsung ke Danau Toba, dan tempatnya super nyaman! (Untuk versi lebih lengkap bisa cek post aku sebelumnya disini).

 

DAY 2

Hari pertama, sebagian besar waktunya habis dimobil dan menunggu antrian kapal. Hari kedua gak mau rugi, bangun pagi-pagi jalan kaki disekeliling hotel dan  menikmati sekitar Tuk-tuk.

Jalan Raya Pulau Samosir

Disini kota yang paling ramai dengan kunjungan turis adalah dipelabuhan, tempat kita menyeberang dan juga beberapa tempat sekitar hotel saja. Beginilah tampak jalan raya di Pulau Samosir, satu jalan dengan dua jalur. Tidak begitu besar dan tidak begitu ramai.Untuk cuaca disini sangat sejuk dan air danaunya juga dingin. Tidak panas seperti di pantai.

Rumah Tradisional Warga Setempat

Disini mulai penuh dengan turis-turis, sepanjang jalan sangat mudah menemukan rental sepeda/ motor dan juga penginapan-penginapan dengan budget sangat terbatas. Selain hotel-hotel yang besar, kebanyakan penduduk lokal disini juga menjadikan rumahnya sebagai penginapan.

Mangga Udang

Hasil belanjaan jalan pagi. Mangga udang dan tanggok ikan. Untuk menangkap ikan malam hari nanti. Mangga udang, mangga kecil yang hanya bisa ditemukan didaerah Berastagi/ Parapat dan sekitarnya (Sumatera Utara). Bentuk mangganya hanya sebesar kepalan tangan, biasa dipotong dengan menggunakan pisau silet lipat dan rasanya juga manis. Biasanya aku sekali makan bisa 8-10 buah sekaligus.

Setelah jalan pagi, kita kembali ke hotel dan siap-siap karena akan menyebrang lagi ke Tomok. Tomok ada desa kecil di Pulau Samosir yang terkenal dengan pasar kain, sovenir dan juga tempat wisata pendek untuk para turis. Kita menyewa kapal yang akan disiapkan, dan menyebrang dari hotel. Perjalanan ini sekitar 15-20 menit saja.

Aida Lim

Karena membawa Aida Lim (oma kesayanganku) dan total kita semua juga sudah 15 lebih orang, jadi kita menyewa kapal pribadi untuk menyebrang. Supaya tidak mengganggu orang lain dan kita tidak terburu-buru karena membawa orang tua.

Ini kapal yang kita sewa. Kapal tingkat dan sudah lebih modern. Ada versi lebih kecilnya juga sih, tapi entah kenapa papaku pilih yang ini, padahal ini bisa muat untuk sekitar 50 orang.

Tomok – Pulau Samosir

Sampai di Tomok, cukup ramai dengan pengunjung dari baik dari Samosir atau Parapat. Jarak tempuh dari Parapat ke Tomok ini kurang lebih sekitar 1 jam. Selain pasar tradisional ini Tomok juga memiliki pementasan tarian Sigale-gale dan Museum. Tapi dikarenakan waktu yang terbatas dan keasikan belanja Ulos (Kain Batak) jadinya tidak sempat mampir ke museum. Tapi aku berfoto dengan Sigale-gale sebagai kenang-kenangan dari Tomok.

Sigale-gale

Cerita lebih lengkap mengenai Sigale-gale juga bisa dibaca disini yaaaa.

Batu Gantung

Setelah beranjak dari Tomok, kita pun berpindah untuk melihat Batu Gantung. Lokasi Batu gantung ini hanya bisa jangkau melalui Danau Toba dan dengan kapal agar bisa melihatnya dengan jelas. Batu ini menjadi legenda dan juga asal muasalnya Parapat katanya.

Batu gantung ini konon katanya adalah jelmaan seorang putri yang dijodohkan oleh orangtuanya, namun ia menolak karena sudah ada seseorang yang didambakannya. Karena sedih dan kecewa dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan melompat ke Danau Toba.
(Selengkapnya bisa dibaca di gobatak.com)

Setelah puas memandangi Batu Gantung dari kapal, kita pun kembali ke hotel dan saatnya bermain air!

Tiba saatnya makan malam, karena ini malam terakhir jadi semuanya akan kita coba! Menurut warga dan staff hotel, resto B2 (babi-nonhalal) yangramai dikunjungi adalah kedua restoran dibawah ini, yang lokasinya tidak begitu jauh dari lokasi hotel kita.

Berkunjung kemanapun di daerah Batak yang wajib dicoba adalah Babi Panggang, Saksang (babi dengan saus campuran darah) dan juga Arsik (gulai ikan mas).

Selain makanan khas batak, Pulau Samosir ini juga terkenal dengan lobster air tawarnya. Jadi setelah makan malam, kita lanjuuut lagi makan lobster. Untuk lobster ini dipanggang kemudian dimakan dengan sambel kecap aja, rasanya manis dan nikmat! Lobster ini juga bisa kamu temukan disepanjang jalan. Semua sama aja, karena sumbernya juga sama, dibelakang rumah mereka.

Lobster Air Tawar

 

DAY 3

Akhirnya tiba juga dipenghujung liburan. Hari terakhir sebelum kembali ke Medan dan pulang ke Jakarta. Dipagi ini juga kita memutuskan untuk tidak kembali dengan jalur yang sama, tapi kita memutar dan menggunakan jalur darat ke arah medan. Tujuan awalnya adalah untuk menghindari antri dipelabuhan seperti saat kita datang kemarin dan juga bisa mengelilingi tempat-tempat lainnya di Samosir.

Pertama kita mampir ke Museum Batak Huta Bolon Simanindo, dengan perjalanan sekitar 1 jam dari Tuk-tuk. Museum ini merupakan salah satu museum terbesar yang ada di Pulau Samosir. Di Museum Huta Bolon Simanindo ini juga menampilkan acara tarian tradisional setiap pagi (selengkapnya bisa baca dipost aku yang ini)

Museum Batak Huta Bolon Simanindo

 

Beranjak dari Museum Huta Bolon Simanindo, kami pun mengarah ke Pemandian Air Panas Pangururan. Sebuah pemandian air panas yang paling besar di Samosir. Air panas ini berasal dari air mata alam asli dan dialirkan ke kolam renang yang sudah dibuat sebagai tempat pemandian. Selain itu kita juga bisa berfoto-foto diatas mata air tersebut.

Aek Rangat

Lokasi pemandian air hangat ini juga dekat dengan Pusuk Buhit (puncaknya Danau Toba). Setelah dari sini kita akan melewati Pusuk Buhit dan menuju Air Terjun Efrata yang searah dengan jalur pulang ke Medan.

Pusuk Buhit

Beginilah pemandangan sepanjang perjalanan kita menuju ke Air Terjun Efrata. Dikelilingi bukit-bukit yang sangat indah! Sepanjang jalan aku terkesima sendiri melihat pemandangan indah ini. Ohya jalur ini sepertinya juga belum lama dibuat, karena jalanannya masih sangat rapi dan sepi. Tetapi jalur perjalanan ini juga berbelok-belok dan sangat curam. Jadi sangat dianjurkan untuk melakukan perjalanan disiang hari saja.

Air Terjun Efrata

Air terjun Efrata ini berasal dari pegunungan bukit barisan. Tingginya mencapai 25meter. Tempatnya cukup ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Hanya saja fasilitas disini belum begitu baik, jadi tidak banyak yang bisa dilakukan jadi kita tidak menghabiskan waktu begitu lama disini.

Tidak jauh dari Air Terjun Efrata, juga ada menara pandang Tele. Disini kita bisa naik ke Menara untuk melihat pemandangan bukit-bukit Pulau Samosir.

Memandang Bukit dari Menara Pandang Tele

BAGUS PAKE BANGET BANGET KAN! Sangat tidak menyangka ternyata Samosir punya cukup banyak lokasi wisata dengan pemandangannya yang luar biasa.

Untuk kalian yang berencana mengunjungi Sumatera Utara, Medan atau sekitarnya, Pulau Samosir ini juga bisa menjadi pilihan tambahan destinasi anda. Apalagi jika anda penikmat panorama-panorama indah, sudah pasti tidak akan kecewa!

Share if you like :

Leave a Reply